Pagi itu cuaca sangat cerah, apa lagi bertepatan musim
kemarau. Kemarau ini setiap pagi udara sangat dingin, bagaikan membekukan
tubuhku. Aku jadi teringat kampung halamanku. Teringat temanteman sepermainanku
diwaktu kecil dulu, dalam hatiku bergelayut rindu dan tanya.
Wajah Bapak , emak dan adik kakakku berseliweran dipelupuk
mata. Sepertinya semua kejadian itu baru terjadi kemarin. Tak pelak air mataku
mengaliri wajahku. Sesenggukan suara tangis yang aku tahan. Teringat apa yang
kita lakukan setiap hari ketika itu. Bagaimana bapak menasehati ataupun
memarahi kami, bagaimana emak menyiapkan makan untuk kami semua, bagaimana
kakak mengasuh adik-adiknya. Ya, memang tradisi di keluarga kita begitu kakak
tertua mengasuh adik kedua, yang kedua mengasuh adik ketiga dan seterusnya.
Seperti estafet, itulah kewajiban kami
masing-masing.
Kakakku melakukannya dengan sigap. Memang kakak sangat cekatan menyelesaikan pekerjaan yang diperintahkan emak. Emak senang melihat sikap kakak yang demikian itu. Mak, terus apalagi mak? “tanyanya”.
“Kalau itu sudah, masukkan daun salam, serai, dan daun jeruk. Aduk hingga layu, kemudian angkatlah. Masukkan ke dalam kaldu, tambahkan daun bawang, masak hingga mendidih. Kemudian angkat. Nah sudah jadi kuah soto kuningnya” kata emak.
“bagai mana mak cara menyajikannya?” kakak bertanya kepada emak.
Kata emak: “ambil nasi, ambil daging ayam, suwir-suwir, soun, seledri dan kecap manis taruhlah dalam mangkok, lalu tuangi kuah panas. Taburi bawang merah dan seledri. Perciki air jeruk nipis. Coba rasakan”. Perintah emak. Kakak hanya membaui saja karena masih puasa belum waktunya berbuka. Kemudian “harum mak, enak mak!” serunya.
Nah itu kalau masak soto seperti itu. Ingat-ingat jangan sampai lupa:”pesan emak kepada kakak.”
Gedebluk, suatu benda jatuh. Membuyarkan lamunanku. Ternyata seekor tikus jatuh dari lubang ternit jalan cahaya matahari masuk ke dalam kamar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar